Saya seorang mahasiswi yang masih remaja. Saya belajar pada salah satu fakultas Humaniora. Pada waktu yang bersamaan, saya bekerja guna merintis masa depan. Bapak saya seorang birokrat pada sebuah atase kedutaan, begitupula ibuku seorang pegawai .
Saya memiliki dua saudara yang merupakan segalanya bagi kehidupanku. Yang pertama seorang perempuan yang sudah tamat sekolahnya, dan seorang laki-laki yang masih sekolah.
Problemku secara ringkas, saya hidup dalam sumur pengkhianatan. Saya menolak siapapun yang ingin menjalin hubungan karena hal-hal yang saya liat selama hidupku, yang semestinya saya jalani dan cintai. Saya mengingat dengan baik kadar cinta antara ibu dan bapakku yang dengan perjalanan waktu berubah menjadi diam total.
Ibu dan bapak saya menikah setelah menjalani kisah cinta yang sangat indah, yang dikarunia oleh Allah dengan tiga anak.
Suasana bahagia dan sedih silih berganti, seringkali saya melihat bapak dan ibu saya sangat kompak dan cinta sampai berpalingnya permasalahan yang dihadapi.
Semua ini berjalan selama lima belas tahun, namun tiba-tiba cinta ini hilang atau berhenti seiring masuknya koneksi internet, sebagai bencana yang menimpa rumah kami dan sangat saya harapkan cepat berlalu.
Internet dan chating menghabiskan sebagian besar waktu kami, namun berkat cinta yang ada pada saya dan saudara-saudaraku kami mampu keluar dari kebiasaan buruk ini.
Bagi bapak saya, komputer, internet dan chating dengan teman-temannya menjadi prioritas hidupnya selain bekerja, adapun kami seakan-akan tidak ada. Seringkali saya melihat dia menerima telepon dari sekian banyak perempuan saat tengah malam. Saya melihat nama mereka dan ucapan-ucapan seperti: pacarku(habibii) atau jiwaku(ruuhu qalbii).
Saya seringkali membohongi mataku, mengatakan pada diriku ada kemungkinan ia melakukan semua ini demi membangkitkan cemburu ibu saya. Tapi saya membenarkan apa yang dilihat mataku ketika bapak saya memarahi kami. Melarang untuk menyetuh hp nya, atau kami mendapatkan hukuman berat.
Ibu saya sendiri pernah melihat di hp bapak saya pesan-pesan yang dikirim dan diterima dari sekian banyak wanita yang reputasinya tidak baik. Seringkali bersikeras ketika berbicara dengan perempuan tersebut lewat internet bahwa ia sama sekali belum beristri.
Bapak juga mengakui kesalahan ibu saya karena sangat cuek terhadap dirinya. Tapi ketika ibu siap berdamai, yang didapati hanyalah ejekan dari bapak. Ketika diingatkan cinta keduanya, bapak sama sekali melupakan ucapan-ucapan yang pernah dikatakannya. Jadinya, ibu seperti seorang yang menunggu kematian dengan penuh kerinduan. Kami bertiga pun tidak mampu menetap dirumah.
Apapun yang kami lakukan, kami tahu hasilnya hanyalah bentakan karena hal-hal sepeleh dan kemarahan.
Kami sudah berusaha menarik bapak kembali kerumah, mengingatkan rumahnya adalah kerajaannya, tapi hanya kemarahan yang kami dapatkan.
Bapak saya rusak karena puberitas yang terlambat(meski saya sangat malu mengatakannya), rasa cuek ibu saya dan internet. Kami tidak tahu bagaimana mendapatkan dan membawanya pulang. Ibu saya rusak karena cuek yang berlebihan, dan kami bertiga hilang dari ingatan keduanya.
“Tidak ada yang namanya cinta” ungkapan ini saya dan saudariku ucapkan kepada setiap laki-laki yang ingin menjalani hubungan dengan kami. Alhamdulillah kami cukup taat beragama dan memiliki reputasi yang baik. Tapi kami membenci pernikahan karena tidak ingin seperti ibu, atau menikahi laki-laki seperti bapak.
Saudari saya seperti orang bingung, apalagi dia sedang dalam usia puber. Saya merasa ia tidak ingin melihat semua ini karena hanya akan menjadi beban pada usia yang semestinya menjadi masa-masa terindah selama hidupnya. Saya dan kakak perempuannya akan selalu berusaha semaksimal mungkin mengarahkan dan menasehatinya.
Akhirnya, bapak tidak lagi melaksanakan shalat. Keperluan rumah dibebankan kepada ibu. Meski demikian, ia tidak segan memberi penilaian. Biaya kuliah harus saya tanggung sendiri. Cinta menghilang dari kehidupan kami dan membawa rasa hormat antara bapak dan ibu saya.
Teriakan dan cacian sudah menjadi sesuatau yang biasa. Hancurlah rumah indah yang pernah kami tempati, kami bertiga ikut merasakannya. Tapi yang tidak saya tahu, semua ini karena siapa.